Selasa, 12 November 2019
  Gubri Sambut Kontingen Porwil Riau Di VIP Bandara SSK II | Maknai Hari Pahlawan Dengan Wujud Nyata Menuju Indonesia Maju | Tahun Depan, Sekolah Gratis Direalisasikan | KPK Limpahkan Perkara Tersangka Suap APBD ke Pengadilan Tipikor Jambi | KPK cecar istri Wali Kota Medan soal perjalanan dinas ke Jepang | Putra Yasonna Laoly tak penuhi panggilan KPK
 
 
Sabtu, 04/03/2017 - 09:13:32 WIB
Keunggulan Ford Fiesta ST
Kencang dan Bisa Matikan Satu Silinder
Sabtu, 25/03/2017 - 20:00:28 WIB
Siapkan Motor Baru Lagi
Suzuki Kian Bergairah
Selasa, 23/10/2018 - 14:31:38 WIB
Keputusan Nafa Urbach jadi Caleg, Ini Respon Zack Lee
Jumat, 05/10/2018 - 13:26:48 WIB
KPK: Wali Kota Pasuruan Dapat Jatah 10 Persen dari Proyek Rp 2,2 M
Sabtu, 04/03/2017 - 09:05:49 WIB
Tidak Ada di Hatchback Lain
Fitur Baru Hyundai i20 Sport
Kamis, 18/10/2018 - 18:49:33 WIB
Trump Minta Bukti Rekaman Jurnalis Arab Saudi yang Hilang kepada Turk
Minggu, 26/02/2017 - 18:38:18 WIB
Hindari Barang Palsu
Berikut Tips Memilih GPS Mobil Terbaik
 
Ekonomi
Antisipasi Resesi Global
Kemenperin Hapus Regulasi Penghambat Ekspor

Ekonomi - spg/ant/mn - Sabtu, 12/10/2019 - 11:20:04 WIB
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto bersama Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Haris Munandar saat konferensi pers kinerja akhir tahun (Foto: Kemenperin)
Jakarta, Riausidik.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berencana menghapus beberapa regulasi yang menghambat investasi dan ekspor sebagai salah satu upaya mengantisipasi resesi global yang diprediksi banyak pihak bakal datang dalam waktu dekat.

"Urgensi penghapusan beberapa regulasi tersebut untuk meningkatkan efisiensi produksi dan meningkatkan ekspor yang pada akhirnya akan menarik investasi," kata Sekretaris Jenderal Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono lewat pesan aplikasi yang diterima di Jakarta, Jumat.

Sigit menyampaikan, terdapat berbagai macam rekomendasi teknis dari 12 komoditas yang rencananya akan dihapus, meskipun ia belum menyebutkan secara rinci.

"Kebanyakan komoditas logam. Dibahas dengan Kementerian Perdagangan karena terkait beberapa Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag)," ungkap Sigit.

Menurut data Kemenperin, kuartal I tahun 2019 diwarnai dengan perlambatan sektor manufaktur di beberapa belahan dunia.

Disebutkan dalam laporan yang dirilis United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), ini terjadi karena dampak perang dagang Amerika Serikat dan China serta pemberlakuan tarif dari Uni Eropa.

“Saat ini perekonomian global sedang melambat, karena ada faktor-faktor internasional. Kondisi ini berimbas pada produksi sektor industri di sejumlah negara dunia,” kata Sigit.

Berdasarkan data UNIDO, pada kuartal I-2019, tingkat pertumbuhan manufaktur dari negara-negara industri hanya sekitar 0,4 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi secara konsisten di setiap triwulan, yang sebelumnya mencapai 3,5 persen pada akhir 2017.

Contohnya, Amerika Utara mencatat tingkat pertumbuhannya secara tahunan hanya 1,8 persen. Ini menunjukkan penurunan 2,5 persen dari capaian pada kuartal IV-2018.

Berikutnya, tingkat pertumbuhan negatif dialami oleh Amerika Latin pada kuartal pertama tahun ini. Kontraksi terjadi 1,2 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, terutama disebabkan oleh resesi yang berkelanjutan dari Argentina dan penurunan angka manufaktur Brasil.

Sementara itu, menurut data Kemenperin, PDB dari sektor manufaktur di Indonesia mencapai Rp565 triliun pada kuartal II tahun 2019, meningkat dibanding perolehan di kuartal I-2019 sebesar Rp555 triliun.

Capaian kuartal kedua tersebut tertinggi, karena rata-rata PDB manufaktur Indonesia per kuartal sekitar Rp468 triliun dari periode 2010-2019. ***
 
 
HOME | ZONARiaU | POLITIK | EKONOMI | OLAHRAGA | PENDIDIKAN | BUDAYA | HUKUM | HIBURAN | NASIONAL | INTERNASIONAL | OTOMOTIF | INDEX
PROFIL | OPINI | PERDA | UNDANG-UNDANG | REDAKSI
Copyright 2011-2014 PT. Elis Pratama Media, All Rights Reserved