Jum'at, 14 Desember 2018
  KPK Tangkap Tangan Kepala Daerah di Cianjur | Deddy Mizwar Penuhi Panggilan KPK Jadi Saksi Kasus Suap Meikarta | Sekdako Buka Kawasan Wisata di Embung Air Bandar Raya | Komisi VIII DPR RI Pantau Kegiatan SBSN Kanwil Kemenag Riau | Wan Thamrin Resmi Gubernur Riau Definitif | Presiden Jokowi: Jangan Main-Main dengan Korupsi
 
 
Sabtu, 04/03/2017 - 09:13:32 WIB
Keunggulan Ford Fiesta ST
Kencang dan Bisa Matikan Satu Silinder
Sabtu, 25/03/2017 - 20:00:28 WIB
Siapkan Motor Baru Lagi
Suzuki Kian Bergairah
Sabtu, 04/03/2017 - 09:05:49 WIB
Tidak Ada di Hatchback Lain
Fitur Baru Hyundai i20 Sport
Minggu, 26/02/2017 - 18:38:18 WIB
Hindari Barang Palsu
Berikut Tips Memilih GPS Mobil Terbaik
Kamis, 09/11/2017 - 20:41:12 WIB
Rating EODB Melonjak ke-72
Bank Dunia: Indonesia Lakukan 7 Reformasi
Minggu, 26/02/2017 - 18:30:08 WIB
Maret, Kawasaki Luncurkan Model Baru
Senin, 16/10/2017 - 21:14:05 WIB
Resmi Jabat Gubernur DKI
Anies: Saatnya Tunaikan Janji
 
Nasional
Pilpres 2019
Poros Ketiga Dinilai Makin Sulit Terbentuk

Nasional - kc - Kamis, 12/04/2018 - 11:48:50 WIB
Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya Prabowo Subianto (kanan) menjawab pertanyaan wartawan usai berkuda bersama disela-sela pertemuan mereka di Padepokan Garuda Yaksa Bojong Koneng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Seni
Jakarta, Riausidik.com - Pakar Psikologi Politik Universitas Indonesia Hamdi Muluk menilai koalisi poros ketiga di luar kubu Presiden Joko Widodo dan kubu Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto sulit terbentuk. Sebab, Hamdi melihat partai Demokrat, PAN dan PKB telah memiliki kecenderungan preferensi politik tertentu.

Hamdi mengungkapkan, partai Demokrat cenderung mengarah ke kubu Jokowi. Sebab, Demokrat akan mencari koalisi yang memiliki peluang kemenangan yang besar.

Sementara PAN, kata dia, lebih condong ke koalisi Prabowo. Karena, ia melihat sosok Amien Rais memiliki sentimen yang negatif terhadap Jokowi.

"Karena secara psikologis Amien Rais benci sama Jokowi dan mengarahkan PAN ke kubu Prabowo," kata Hamdi.
 
Di satu sisi, PKB juga bersikap gamang. Sebab, Muhaimin Iskandar yang mendeklarasikan dirinya sebagai cawapres Jokowi, harus terjun dalam pertarungan perebutan kursi cawapres yang sengit.

Sehingga, itu juga akan berdampak pada sikap PKB nantinya. "Nah, apakah nanti cuma dua kubu? Atau ada kubu ketiga. Kubu ketiga secara hitung-hitungan bisa muncul. Kan yang belum jelas ada Demokrat, PAN dan PKB. Nah, itu kalau mereka buka kubu, itu bisa," ujar Hamdi.

Namun demikian, Hamdi menilai jika koalisi ketiga terbentuk, maka akan terjadi kegamangan dalam menentukan kandidat calon presiden dan wakil presidennya. Sebab, mereka juga harus memperhatikan elektabilitas calon sebagai indikator yang paling menentukan kesuksesan koalisi.

"Memang elektabilitas itu semacam hukum besinya, jadi paling menentukan itu preferensi politik berdasarkan popularitas, kesukaan, dan mau dipilih apa enggak. Itu kan ujungnya disitu," kata dia.

Hamdi memaparkan, elektabilitas Jokowi cenderung kuat, disusul oleh Prabowo yang cukup rendah. Sementara itu, nama-nama lain seperti Anies Baswedan, Gatot Nurmantyo dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memiliki elektabilitas yang sangat kecil. "Yang lain kan kecil sekali, Gatot, Anies, AHY, juga pertanyaannya apakah cukup waktu menyaingi Prabowo atau Jokowi. Itu pertanyaannya," katanya. ***

 
 
HOME | ZONARiaU | POLITIK | EKONOMI | OLAHRAGA | PENDIDIKAN | BUDAYA | HUKUM | HIBURAN | NASIONAL | INTERNASIONAL | OTOMOTIF | INDEX
PROFIL | OPINI | PERDA | UNDANG-UNDANG | REDAKSI
PEDOMAN MEDIA CYBER
Copyright 2011-2014 PT. Elis Pratama Media, All Rights Reserved
replica handbags replica watches uk