Jum'at, 20 Juli 2018
  Densus Bekuk 7 Terduga Teroris Sumsel, Termasuk Pegawai BUMN | Progres Proyek Jembatan Siak IV, Stagnan? | Kepala BKPP Bengkalis Menandatangani Berita Acara | Sekda Bengkalis H Bustami HY Terima Rp1,165 Miliar | Bupati Kampar Adakan Pertemuan Dengan Dirjen Bina Marga RI | Sekdakab Inhil Lantik Kepengurusan HNSI di Gaung
 
 
Kamis, 19/07/2018 - 17:53:05 WIB
Densus Bekuk 7 Terduga Teroris Sumsel, Termasuk Pegawai BUMN
Kamis, 19/07/2018 - 14:55:23 WIB
Rekanan Tidak Punya Pengalaman Dimenangkan
Progres Proyek Jembatan Siak IV, Stagnan?
Kamis, 19/07/2018 - 12:38:25 WIB
Serah Terima Lulusan IPDN Angkatan XXIV
Kepala BKPP Bengkalis Menandatangani Berita Acara
Kamis, 19/07/2018 - 12:28:45 WIB
Hasil Sitaan Kejari Bengkalis:
Sekda Bengkalis H Bustami HY Terima Rp1,165 Miliar
Kamis, 19/07/2018 - 12:16:23 WIB
Bupati Kampar Adakan Pertemuan Dengan Dirjen Bina Marga RI
Kamis, 19/07/2018 - 12:03:01 WIB
Sekdakab Inhil Lantik Kepengurusan HNSI di Gaung
Kamis, 19/07/2018 - 11:57:28 WIB
Bupati Inhil Sampaikan Pidato Pengantar Terhadap 5 Ranperda Tahun 2018
Minggu, 26/02/2017 - 18:38:18 WIB
Hindari Barang Palsu
Berikut Tips Memilih GPS Mobil Terbaik
Minggu, 26/02/2017 - 18:30:08 WIB
Maret, Kawasaki Luncurkan Model Baru
Sabtu, 04/03/2017 - 09:13:32 WIB
Keunggulan Ford Fiesta ST
Kencang dan Bisa Matikan Satu Silinder
Kamis, 09/11/2017 - 20:41:12 WIB
Rating EODB Melonjak ke-72
Bank Dunia: Indonesia Lakukan 7 Reformasi
Senin, 16/10/2017 - 21:14:05 WIB
Resmi Jabat Gubernur DKI
Anies: Saatnya Tunaikan Janji
Kamis, 02/11/2017 - 18:52:08 WIB
Melompat 19 Tingkat
Kemudahan Berusaha di Indonesia Kini Nomor 72
Sabtu, 04/03/2017 - 09:05:49 WIB
Tidak Ada di Hatchback Lain
Fitur Baru Hyundai i20 Sport
 
Pekanbaru
Terjun dari Lantai 8 Hotel Aryaduta Hingga Kabur di Lapas

Pekanbaru - grc/ch/y - Kamis, 23/11/2017 - 11:04:43 WIB
Foto, Satriandi yang Melarikan diri dari Tahanan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas II A Rabu (22/11/2017) sore kemarin.
Pekanbaru, Riausidik.com - Aparat kepolisian sampai saat ini masih melakukan perburuan terhadap tahanan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas II A Pekanbaru bernama Satriandi yang melarikan diri Rabu (22/11/2017) sore kemarin, bersama teman satu selnya bernama Nugroho. Ia lolos dengan mengancam petugas jaga menggunakan senjata api.

Aksi Satriandi ini bukan sekali itu saja dilakukan, pria kurus tersebut punya sederet catatan kriminal yang terbilang fantastis. Selain itu, dirinya juga terbilang licin dari jeratan hukum.

Dipecat dari Kepolisian. Satriandi ini diketahui pernah menjadi abdi negara dan pelayan masyarakat. Ia bertugas sebagai polisi dan sempat berdinas di Kabupaten Rohil, Riau. Namun akhirnya ia dipecat lantaran melakukan perbuatan yang melanggar kode Etik kepolisian.

Setelah dipecat jadi polisi, Satriandi banting setir menjadi pengedar Narkoba. Tak tanggung-tanggug, ia diketahui main antar provinsi, hingga akhirnya ditangkap pada Mei 2015 lalu, bersama ribuan butir Pil Ekstasi. Dan ada beberapa orang rekan Satriandi turut diciduk.

Saat penangkapan itu tepatnya pada 5 Mei 2017, Satriandi mengunci pintu lalu nekat melompat dari kamar tempatnya bersembunyi, di lantai delapan Hotel Aryaduta Pekanbaru. Ia memecahkan kaca dan terjun bebas menghantam beton, hingga terluka parah.

Aksi terjun bebas yang dilakukannya dari kamar hotel membuat Satriandi alami luka berat. Bahkan kata polisi saat itu, ia diprediksi alami lumpuh 90 persen lantaran kakinya remuk. Selain itu Satriandi juga alami gangguan daya ingat. Inilah yang membuatnya lolos dari hukuman terkait bisnis Narkoba tersebut.

Lolos dari kasus Narkoba tidak membuat Satriandi kapok. Pada Januari 2017 ia berulah lagi, bahkan nekat menghabisi nyawa pria 21 tahun bernama Jodi Oye, warga Kampung Dalam, Pekanbaru. Korban ditembak mati di Jalan Hasanudin. Ia mengeksekusi korban diduga terkait bisnis Narkoba dan lantaran sakit hati.

Setelah melakukan pembunuhan, Polresta Pekanbaru langsung memburu Satriandi. Ia tertangkap kurang dari 24 jam setelah menghabisi nyawa Jodi Oye. Satriandi ini dibekuk pada 8 Januari 2017 di daerah Padang Panjang Sumbar.

Saat penangkapan, Satriandi sempat dihadiahkan timah panas oleh polisi di kakinya. Bukan tanpa alasan, karena dia membawa sepucuk senjata api rakitan beserta enam butir peluru, yang dikhawatirkan dapat menyalak dan melukai aparat berwajib, ditambah lagi pria ini terbilang nekat dalam beraksi. Peluru yang menerjang kakinya tersebut tidak membuat Satriandi tewas, dan lagi-lagi selamat dari maut.

Kemudian Satriadi melarikan diri dari Lapas Klas II A Pekanbaru. Atas keterlibatannya dalam kasus pembunuhan terhadap Jodi, membuat Satriandi harus dihukum dan dipenjara di Lapas Klas II A Pekanbaru. Perkaranya dalam tahap banding. Kemudian tepat pada 22 November 2017 sore, Satriandi justru kabur bersama teman satu selnya Nugroho.

Kemudian saat dirinya kabur dari Lapas Klas II A Pekanbaru sore kemarin juga memakai senjata api. Itulah yang dijadikannya untuk mengancam petugas penjaga, sehingga dengan mudah menembus pagar berlapis penjara.

Belum diketahui dari mana Satriandi bisa memperoleh senjata api tersebut, padahal ia tengah ditahan di Lapas. Kepolisian dan pihak Lapas Klas II A Pekanbaru setakat ini masih mendalami soal asal muasal senjata yang dipakainya untuk kabur dan mengancam petugas jaga tersebut.

Kaburnya Satriandi dari Lapas Klas II A Pekanbaru diduga sudah terencana dan dibantu orang lain. Bukan tanpa sebab, beberapa jam sebelum melarikan diri, ia sempat dibesuk dua orang, yang salah satunya terindikasi adalah supir yang menjemput Satriandi menggunakan mobil usai ke luar dari gerbang Lapas.

Dirinya juga dibantu alias dipapah saat berjalan ke luar penjara oleh Nugroho, Narapidana teman satu sel Satriandi. Sebab kaki pria tersebut tak bisa normal, pasca aksi gilanya terjun dari lantai delapan Hotel Aryaduta dan bekas timah panas polisi saat penangkapan terkait kasus pembunuhan terhadap Jodi Oye.

Bantuan-bantuan untuk Satriandi bukan kali ini saja. Saat pelariannya usai membunuh Jodi, beberapa orang juga menolongnya agar bisa lolos dari perburuan aparat berwajib. Begitu pula ketika ia hendak membunuh kroban, di mana ada orang lain yang terlibat untuk memancing Jodi ke lokasi eksekusi, Jalan Hasanuddin.

Satriandi juga terbilang lihai menyamarkan diri. Ini terbukti pasca dirinya terlibat kasus Narkoba hingga terjun dari lantai delapan hotel. Disebut polisi, Satriandi ketika itu punya KTP palsu, sehingga bisa dengan mudah ke luar kota.

Ketika itu Satriandi leluasa kemana-mana lantaran disebut mengalami gangguan jiwa berat pasca terjun dari lantai delapan hotel Aryaduta Pekanbaru. Dengan begitu, dan modal identitas palsu, ia bisa jalan-jalan hingga ke Medan dan Bali tanpa terlacak, termasuk diduga melakoni bisnis Narkobanya. ***
 
 
HOME | ZONARiaU | POLITIK | EKONOMI | OLAHRAGA | PENDIDIKAN | BUDAYA | HUKUM | HIBURAN | NASIONAL | INTERNASIONAL | OTOMOTIF | INDEX
PROFIL | OPINI | PERDA | UNDANG-UNDANG | REDAKSI
PEDOMAN MEDIA CYBER
Copyright 2011-2014 PT. Elis Pratama Media, All Rights Reserved
replica handbags replica watches uk